Rabu, Oktober 22, 2008

THL-TBPP MENGHADIRKAN “SRI” DI KOTA PASURUAN

THL TBPP MENGHADIRKAN SRI DIKOTA PASURUAN


Pangan bagi kota Pasuruan adalah penentu kesejahteraan sebagian besar penduduk pedesaan yang mata pencahariannya sebagai petani berlahan sempit dan buruh tani. Di Kota Pasuruan ketahanan pangan dicerminkan antara lain oleh ketahanan komoditi beras yang merupakan komoditas pangan paling strategis.
Untuk meningkatkan kebutuhan pangan di wilayah kota Pasuruan khususnya beras yang selama ini produktifitasnya di tingkat petani masih rendah yang rata-rata hasil panen berkisar antara 5 – 5,5 ton/Ha, maka THL-TBPP Kota Pasuruan menghadirkan teknologi baru untuk meningkatkan produktifitas padi di Kota Pasuruan dengan cara memperkenalkan metode “SRI” (System of Rice Intensification). System of Rice Intensification (SRI) adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktifitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air, dan unsur hara. Metode ini ditemukan secara tidak sengaja di Madagaskar antara tahun 1983 – 1984 oleh biarawan Yesuit asal Perancis bernama FR.HENRY DE LAULANI.SJ. Oleh penemunya metode ini selanjutnya dalam bahasa Inggris popular dengan nama “System of Rice Intensification” ( SRI ).
Perkenalan teknologi baru ini dilakukan dengan cara pembuatan Demo plot SRI. Potensi hasil dari pola tanam SRI tersebut, akan diterapkan di wilayah kota Pasuruan yang selama ini belum ada penerapan dengan sistem tersebut yang teridentifikasi hasilnya. Demo plot sistem tanam SRI ini mempunyai tujuan sebagai berikut :
Untuk mengetahui cara atau sistem SRI dengan baik dan benar.
Untuk mengetahui faktor-faktor pendukung serta kendala yang dihadapi pada penanaman SRI.
Untuk mengetahui perbandingan hasil produksi padi SRI yang murni dilakukan oleh petani dengan segala perlakuan dan kebiasaannya dengan sistem konvensional di kota Pasuruan.
Demo plot sistem tanam SRI ini dilaksanakan mulai bulan April sampai dengan bulan Juli 2008. Lokasi demo plot ini berada di Sawah milik Sunarno yang terletak di blok Tegal Bero Kelurahan Wirogunan Kecamatan Purworejo seluas 0,4 ha dengan padi varietas Ciherang dan sawah milik Agus Wiyono yang terletak di Kelurahan Tembokrejo Kecamatan Purworejo seluas 0.147 ha dengan padi varietas IR-64. Dalam pelaksanaannya demo plot ini dilakukan secara swadaya oleh petani sedangkan teknic advisor oleh THL-TBPP Kota Pasuruan.
Berkat dukungan moril dari semua pihak khususnya dari Dinas Pertanian dan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Pasuruan Demo Plot SRI dapat dilakukan. Syukur Alhamdulillah Demo Plot SRI ini memberikan hasil yang sangat memuaskan dengan pencapaian peningkatan produksi sebesar 33 % dibanding hasil yang dicapai dengan sistem konvensional.


Metode Pelaksanaan Demo Plot Sistem Tanam SRI
Pengolahan Tanah.

Untuk mendapatkan media tumbuh yang baik, maka lahan diolah seperti tanam padi metode biasa yaitu tanah dibajak sedalam 25 – 30 cm sambil membenamkan sisa tanaman dan rumput kemudian digemburkan dengan garu sampai terbentuk struktur lumpur yang sempurna lalu diratakan sebaik mungkin sehingga saat diberikan air ketinggiannya dipetakan sawah akan merata.

Pemilahan Benih Bernas Dengan Larutan Garam.

Pemilahan benih bernas dilakukan dengan memasukkan air kedalam ember kemudian diberi garam lalu diaduk sampai larut, jumlah garam dianggap cukup bila telur itik telah mengapung. Masukkan benih padi kedalam ember kemudian pisahkan benih yang mengambang dengan yang tenggelam. Selanjutnya benih yang tenggelam / bermutu dicuci dengan air biasa sampai bersih.


Perendaman dan Penganginan Benih.

Setelah uji benih selesai, proses berikutnya adalah sebagai berikut :
Benih yang bermutu (tenggelam) direndam dalam air bersih selama 24 – 48 jam. Setelah direndam dianginkan atau ditiris selama 24 – 48 jam sampai berkecambah.

Persemaian.
Persemaian dilakukan dengan menggunakan baki plastik atau kotak yang terbuat dari besek. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pemindahan, pencabutan dan penanaman. Proses persemaian adalah sebagai berikut :

Benih yang digunakan dalam budidaya SRI tergantung pada kebiasaan/kesukaan petani (bermutu baik / bernas).
Penyiapan tempat persemaian (baki/besek) dilapisi dengan daun pisang yang sudah dilemaskan, kemudian diberi tanah yang subur bercampur kompos dengan perbandingan 1 : 1 . Tinggi tanah pembibitan sekitar 4 cm.
Benih ditaburkan kedalam tempat persemaian kemudian ditutup tanah tipis.

Penanaman.

Pola penanaman bibit metode SRI adalah bujur sangkar 30 x 30 cm pada tanah yang subur. Garis-garis bujur sangkar dibuat dengan caplak. Bibit ditanam pada umur 11 hari (berdaun dua) setelah semai dengan jumlah benih perlubang satu (tanam tunggal) dan dangkal 1 – 1,5 cm serta posisi perakaran seperti huruf “L”.


Pemupukan

Takaran pupuk an organic mengikuti kebiasaan petani setempat dengan waktu pelaksaan :
Pemupukan I pada umur 7-15 HST dengan dosis urea 100 kg/Ha dan Ponska dengan dosis 75 kg/Ha.
Pemupukan II pada umur 25-30 HST dengan dosis urea 100 kg/Ha dan Ponska dengan dosis 75 kg/Ha.
Pemupukan III pada umur 40-45 HST dengan dan Ponska dengan dosis 75 kg/Ha.

Penyiangan

Penyiangan dilakukan sebanyak 3 kali atau lebih sesuai kondisi sawah. Semakin sering dilakukan penyiangan akan dapat meningkatkan produksi.

Pengairan

Cara pengairan berselang adalah :
Sewaktu tanam bibit, lahan dalam kondisi macak-macak.
Secara berangsur-angsur tanaman dialiri setinggi 2-5 cm hingga tanaman berumur 10 HST.
Lahan tidak diairi selama 5-6 hari atau sampai permukaan tanah retak-retak selama 2 hari, kemudian diairi kembali.
Mulai fase keluar bunga sampai 10 hari sebelum panen, lahan digenangi lagi, selanjutnya lahan dikeringkan untuk mempercepat dan meratakan pemasakan gabah dan mempermudah panen.







Pengendalian Hama Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dilokasui demplot SRI dikendalikan dengan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), dengan cara mempergunakan varietas benih yang sehat dan resisten terhadap hama dan penyakit, menanam secara serentak serta mempergunakan pestisida secara selektif.
Hama Belalang, walang sangit, keong dibuatkan alat perangkap.Wereng dikendalikan dengan penaburan abu gosok.
Penggunaan pestisida hanya dilakukan sebagai langkah terakhir, bila serangan hama dan penyakit belum teratasi.

Panen

Panen dilakukan setelah tanaman tua dengan ditandai menguningnya semua bulir secara merata atau masaknya gabah, indikasinya bila digigit tidak berair. Dari pengalaman selama ini panen berlangsung lebih awal dibandingkan dengan sistim biasa/konvensional (dihitung dari mulai persemaian).













Tim Pelaksana
DEMO PLOT SISTEM TANAM PADI “SRI”
(SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION)



3 komentar:

yuli mengatakan...

THL kota Pasuruan emang jempolan banget deh.......

Anonim mengatakan...

Teknologi yg diterapkan sdh bagus. tinggal penerapan ke petani hrs bisa optimal. Untuk situsnya, kanan kirinya kok msh kosong ya!! tolong dikasih info atau gambar2 apa bgtu. Trks. Riza-Sby.

Kristya mengatakan...

Kami sebagai warga Kota Pasuruan (Ds.Blandongan,Bugul Kidul) yang kebetulan juga sebagai Petani. Sangat berminat menanam padi dengan metode SRI ini.

Bisakah di bantu penjelasan teknis aplikatif yang detail. Bila berkenan bisa di kirim ke email : ekikpraja94@gmail.com