Selasa, November 30, 2010

PERCONTOHAN POLA TANAM “SRI” (SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION) TEMBUS 9,4 TON/Ha


Kelurahan Pekuncen terletak di wilayah Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan. Sebagian kecil penduduk desa ini bermatapencaharian sebagai petani padi. Karena lahan yang di gunakan untuk pertanian semakin berkurang, disamping itu kesejahteraan petani yang menjadi pelaku usaha di bidang pertanian masih saja rendah. Pertanian padi di kelurahan ini sebagian besar berada pada lahan sawah yang beririgasi teknis. Luas lahan sawah di kelurahan ini sekitar 21 Ha. Namun demikian, umumnya, para petani memiliki luas lahan sawah yang terbatas, yaitu antara 2000 m2 sampai 10000 m2. Bahkan, ada juga sebagian petani yang sama sekali tidak memiliki lahan sendiri. Biasanya, petani padi ini menggunakan sawah sewaan. Produktivitas sawah di kelurahan ini juga masih tergolong rendah. Rata-rata hasil padi per hektar per musim tanam sekitar 5 – 6 ton. Produktivitas seperti ini telah berlangsung sangat lama tanpa ada tendensi untuk meningkat. Peningkatan produktivitas padi di daerah ini akan sangat sulit terjadi apabila tidak ada inovasi baru.

Ada beberapa penyebab mengapa produktivitas padi di daerah ini sulit meningkat. Salah satu penyebab adalah petani tidak mempunyai keberanian dan pengetahuan untuk mengusahakan dengan cara baru. Ada kesan bahwa cara menanam padi tidak bisa diubah sebagaimana yang sekarang ini dilakukan. Pendapat bahwa padi harus ditanam dalam air sangat melekat kuat dipikiran para petani. Padahal kita tahu bahwa padi sebenarnya bukanlah tanaman air. Masih banyak hal lain yang juga ikut menyebabkan sulitnya meningkatkan produktivitas padi. Antara lain adalah pupuk yang dipakai pada tanaman padi. Hampir semua petani di kelurahan ini menganggap bahwa padi hanya memerlukan pupuk urea. Padahal kita tahu bahwa tanaman padi juga memerlukan unsur hara lainnya dan karenanya memerlukan pemupukan yang seimbang. Hal yang sama juga terjadi terhadap pupuk organik. Pupuk organik dianggap tidak diperlukan. Padahal pupuk organik sangat bermanfaat baik untuk kesuburan tanah maupun untuk pertumbuhan dan hasil tanaman. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan. Produktivitas sawah di daerah ini menjadi statis dan rendah. Petani tidak dapat meningkatkan pendapatannya sehingga tidak ada perbaikan kesejahteraan. Petani miskin menjadi tetap miskin.

Berdasarkan pengamatan dan analisis ini, kami Kelompok Tani “Sumber Tirto” bekerjasama denga THL-TBPP (Tenaga Harian Lepas – Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian) Kelurahan Pekuncen bermaksud melakukan suatu pengabdian kepada masyarakat di kelurahan ini untuk membuka wawasan petani bagi peningkatan produktivitas tanaman khususnya tanaman padi. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan contoh cara bertaman padi alternatif, yaitu bertanam padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification). Metode SRI ini sangat ramah lingkungan, sangat hemat dalam pemakaian air dan ekonomis dalam penggunaan benih. Menurut beberapa hasil penelitian, hasil yang diperoleh dengan sistem SRI ini sangat tinggi, lebih tinggi daripada dengan metode konvensional biasa. Hasil penelitian oleh Nissanka dan Bandara (2004) menunjukkan bahwa metode SRI memberikan pertumbuhan yang lebih kuat, menghasilkan bulir yang lebih banyak, dan produksi bahan kering yang lebih tinggi daripada metode konvensional biasa. Zheng et al. (2004) menyatakan bahwa sistem SRI dapat menghasilkan padi sampai 12 ton/Ha. Lebih lanjut Ramanujan (2006) menyatakan bahwa sementara metode konvensional hanya memberikan rata-rata hasil antara 2 – 4 ton/Ha, metode SRI dapat menghasilkan rata-rata hasil antara 7 – 8 ton/Ha, bahkan sampai 15 ton/Ha.

Metode Percontohan Pola Tanam SRI

1. Pengolahan Tanah.

Untuk mendapatkan media tumbuh yang baik, maka lahan diolah seperti tanam padi metode biasa yaitu tanah dibajak sedalam 25 – 30 cm sambil membenamkan sisa tanaman dan rumput kemudian digemburkan dengan garu sampai terbentuk struktur lumpur yang sempurna lalu diratakan sebaik mungkin sehingga saat diberikan air ketinggiannya dipetakan sawah akan merata.

2. Pemilahan Benih Bernas Dengan Larutan Garam.

Untuk mendapatkan benih yang bermutu baik/bernas, maka perlu dilakukan pemilihan, walaupun benih tersebut dihasilkan sendiri atau benih berlabel, yaitu dengan mengguanakan larutan garam dengan langka-langka sebagai berikut :

Pemilahan benih bernas dilakukan dengan memasukkan air kedalam ember kemudian diberi garam lalu diaduk sampai larut, jumlah garam dianggap cukup bila telur itik telah mengapung.

Masukkan benih padi kedalam ember kemudian pisahkan benih yang mengambang dengan yang tenggelam. Selanjutnya benih yang tenggelam / bermutu dicuci dengan air biasa sampai bersih.

3. Perendaman dan Penganginan Benih.

Setelah uji benih selesai, proses berikutnya adalah sebagai berikut :

Benih yang bermutu (tenggelam) direndam dalam air bersih selama 24 – 48 jam.

Setelah direndam dianginkan atau ditiris selama 24 – 48 jam sampai berkecambah.

4. Persemaian.

Persemaian dilakukan dilahan dengan dilapisi plastik. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pemindahan, pencabutan dan penanaman. Proses persemaian adalah sebagai berikut :

Benih yang digunakan dalam budidaya SRI tergantung pada kebiasaan/kesukaan petani (bermutu baik / bernas).

Penyiapan tempat persemaian dilapisi dengan plastik, kemudian diberi tanah yang subur bercampur kompos dengan perbandingan 1 : 1 . Tinggi tanah pembibitan sekitar 4 cm.

Benih ditaburkan kedalam tempat persemaian kemudian ditutup tanah tipis.

5. Penanaman

Pola penanaman bibit metode SRI adalah bujur sangkar 27.5 x 20.5 cm pada tanah yang subur. Garis-garis bujur sangkar dibuat dengan caplak. Bibit ditanam pada umur 12 hari (berdaun dua) setelah semai dengan jumlah benih perlubang dua tanaman dan dangkal 1 – 1,5 cm serta posisi perakaran seperti huruf “L”.

6. Pemupukan

Dalam pelaksanaan percontohan pola tanam SRI oleh Kelompok Tani ”Sumber Tirto” dengan didampingi oleh THL-TBPP Kelurahan Pekuncen ada dua perlakuan dengan mempergunakan pupuk organik dan pupuk anorganik/kimia.

a. Pemupukan Organik

Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk organik granul yang sudah direkomendasikan oleh Departemen Pertanian dengan dosis 600 kg/Ha. Pengaplikasian pupuk organik ini pada saat tanaman berumur 1 HST

b. Pemupukan Anorganik / Kimia

Takaran pupuk anorganik mengikuti anjuran Dinas Pertanian atau kebiasaan petani setempat dengan waktu pelaksaan :

Pemupukan I pada umur 7 HST dengan dosis urea 60 kg/Ha dan Ponska dengan dosis 100 kg/Ha.

Pemupukan II pada umur 25 HST dengan dosis urea 60 kg/Ha, Ponska dengan dosis 100 kg/Ha dan ZA dengan dosis 50 kg/Ha

Pemupukan III pada umur 44 HST dengan dosis urea 40 kg/Ha, Ponska dengan dosis 100 kg/Ha dan ZA dengan dosis 50 kg/Ha

7. Penyiangan

Penyiangan dilakukan sebanyak 2 kali atau lebih sesuai kondisi sawah. Semakin sering dilakukan penyiangan akan dapat meningkatkan produksi.

8. Pengairan

Cara pengairan berselang adalah :

Sewaktu tanam bibit, lahan dalam kondisi macak-macak.

Secara berangsur-angsur tanaman dialiri setinggi 2-5 cm hingga tanaman berumur 10 HST.

Lahan tidak diairi selama 5-6 hari atau sampai permukaan tanah retak-retak selama 2 hari, kemudian diairi kembali.

Mulai fase keluar bunga sampai 10 hari sebelum panen, lahan digenangi lagi, selanjutnya lahan dikeringkan untuk mempercepat dan meratakan pemasakan gabah dan mempermudah panen.

9. Pengendalian Hama Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dipercontohan Pola Tanam SRI ini dikendalikan dengan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), dengan cara mempergunakan varietas benih yang sehat dan resisten terhadap hama dan penyakit, menanam secara serentak serta mempergunakan pestisida secara selektif.

Hama Belalang, walang sangit dan wereng dilakukan penyemprotan dengan Pestisida Nabati. Untuk Penggerek Batang dikendalikan dengan pemasangan Tricogramma,sp (pias).

Penggunaan pestisida hanya dilakukan sebagai langkah terakhir, bila serangan hama dan penyakit belum teratasi.

10.Panen

Panen dilakukan setelah tanaman tua dengan ditandai menguningnya semua bulir secara merata atau masaknya gabah, indikasinya bila digigit tidak berair. Dari pengalaman selama ini panen berlangsung lebih awal dibandingkan dengan sistim biasa/konvensional (dihitung dari mulai persemaian).


Berdasarkan hasil pengamatan dapat diambil kesimpulan, sebagai berikut :

No

Parameter

SRI

Konvensional

1

Kebutuhan benih

15 kg/Ha

50 kg/Ha

2

Usia persemaian

12 hari

20-30 hari

3

Masa stagnasi

2-3 hari

6-8 hari

4

Kebutuhan air

Hemat

Terusan

5

Bagan warna daun

4

4

6

Tinggi tanaman

83.42 cm

76.25 cm

7

Gulma

Sedang

Sedang

8

Hama dan Penyakit

Agak rawan

Agak tahan

9

Jumlah anakan (max)

56.67 btg

26.33 btg

10

Jumlah anakan produktif

23.17 btg

16.25 btg

11

Panjang malai

25.02 cm

24.4 cm

12

Jumlah bulir setiap malai

144.62 btr

131.5 btr

13

Butir bernas setiap malai

131.45 btr

127.5 btr

14

Butir hampa setiap malai

13.17 btr

4.9 btr

15

Berat gabah setiap malai

3.82 g

3.52 g

16

Berat 1000 butir gabah

29.87 g

27.5 g

17

Kadar air saat panen

26.33 %

26.31 %

18

Hasil Panen (Riel)

9.46 ton/Ha

5.6 ton/Ha


Analisa Usaha Tani

No

Uraian

SRI

Konvensional

1

Benih

75.000

250.000

2

Pupuk Organik Granul 600 kg

276.000

0

3

Pupuk Anorgani/Kimia




a. SRI




Urea 200 kg

260.000



Ponska 300 kg

560.000



ZA 100 kg

116.000



b. Konvensional




Urea 300 kg


325.000


Ponska 300 kg


560.000

4

Persemaian




a. Semai

10.000

60.000


b. Cabut Bibit


75.000


c. Pindah Bibit


30.000

5

Biaya Tanam

600.000

400.000

6

Pengolahan lahan dan galengan

960.000

960.000

7

Biaya Penyiangan 2 kali

1.350.000

1.200.000

8

Pengendalian Hama & Penyakit

532.000

300.000

9

Biaya Panen




a. SRI 9.46 ton/Ha (Rp 170.000,-/ton)

1.608.200



b. Konv. 5.6 ton/Ha (Rp 170.000,-/ton)


952.000

10

Biaya Sewa Lahan

3.000.000

3.000.000


TOTAL BIAYA PRODUKSI DAN PANEN

9.347.200

8.112.000

1

Hasil Panen SRI 9.46 ton/Ha (Rp 2.400,-/kg)

22.704.000


2

Hasil Panen Konv. 5.6 ton/Ha (Rp 2.400,-/kg)


13.440.000


HASIL PRODUKSI

22.704.000

13.440.000


KEUNTUNGAN

13.356.800

5.328.000



Kelompok Tani “Sumber Tirto” dan THL-TBPP

Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Bugul Kidul

Kota Pasuruan

Telp. (0343)6226446 / 085649550907

www.rwink8.blogspot.com

Tidak ada komentar: